udah lama rasanya ga berkunjung di blog ini,,di samping karna lupa password dan agak enggan untuk me-follow up, juga disibukkan dengan berbagai kegiatan,,yah bisa dibilang lagi sibuk
tulisan ini juga merupakan tulisan saya setelah menyandang status baru sebagai seorang istri dan seorang yang sedang memiliki rutinitas di luar rumah,,,
pertama, bila anda membaca tulisan ini setidaknya anda akan bertanya, bagaimana rasanya menjadi seorang istri?? perubahan apa yang telah terjadi dalam segala aspek ehidupan??
saya menjawab,,sejak akad nikah, saya menyandang kewajiban dan hak sebagai seorang istri yang merupakan konsekuensi logis jika kita memutuskan menikah, pastinya akan disertai banyak perubahan dalam kehidupan, baik dalam hal sikap atau pun kebiasaan..
apakah saya selalu merasakan kebahagiaan??yup saya bahagia menikah dengan suami saya, seperti apapun dia itu adalah yang harus saya terima karna telah meniikahinya,,hal lainnya yang bisa diubah akan menjadi diskusi tersendiri,,
mungkin bagi sebagian orang menikah akan menjadikan diri seolah-olah berada dalam penjara karena banyak aturan yang mesti diikuti sebagai seorang wanita yang telah berumah tangga
keluar mesti izin suami, mungkin terdengar sepele,,tapi eitss,, jangan salah hal ini sangat berpengaruh bagi keharmonisan, suami merasa istrinya adalah tanggung jawabnya dan harus tau di mana sang istri berada, di samping hal tersebut merupakan ajaran agama,,dan masih banyak hal lain yang perlu dipelajari,,dan pernikahan ini adalah tahapan2 dalam mempelajarinya,,
misalnya ketika saya keluar rumah untuk bekerja, hal ini bukan hanya menjadi keputusan saya pribadi tetapi sebaiknya terleih dahulu dimusyawarahkan dengan suami, hal ini sangat diperlukan, karena menurut saya, wanita yang bekerja di rumah bener2 menguras tenaga dan fikiran banget. belum lagi di jalan, mengalami kemacetan, dan ketika pulang mesti bertindak sebagai seorang istri, menyiapkan makanan- dan sebagainya,, jika suami ga pengertian ataupun tak memiliki niat untuk membantu istrinya, maka yang ada kekacauan,,:D
hal lainnya yang saya rasakan adalah ketika bergaul dengan temen2 saya yang nota bene adalah laki2,,
saya bisa saja berfikir bahwa suami saya akan berkata, itu kan cuma temen dan lagian sekarang ia udah jadi istri saya,,
dalam fikiran saya, menambahkan bila demikian terjadi, wajar adanya, tapi tep saja sekarang ini status udah berubah, kita bukan lagi laki2 single atau wanita single, harus menjaga perasaaan hati pasangan,, masa iya di saat kita udah menikah masih bersikap cair sama lawan jenis, sms lumayan intens, sering ketemuan, makan bareng, olah raga bareng, atau hanya sekedar untuk cerita atau curhat2an,, sering terjadi hal demikian menjadi awal pemicu retaknya rumah tangga ![]()
biasanya, hal itu ga terjadi sekarang tapi akan menjadi efek gunung es,,,
lagi pula menurut hemat saya, aturan islam telah jelas mengatur hubungan antar lawan jenis, dan setelah menikah hal itu harusnya lebih dipertahankan dan dilaksanakan,,
hal lainnya adalah masalah keuangan, komunikasikan seperti apa anggaran rumah tangga mesti dikerjakan, siapa yang menangani ini dan itu, atau pun masalah lainnya yang terkait dengan keuangan. tak jarang hal ini juga menjadikan rumah tangga hanya tinggal kenangan…
menyatukan dua keluarga pasca menikah adalah hal penting, bagaimana kita menganggap keluarga pasangan adalah keluarga sendiri,,memperlakukannya selayaknya keluarga sendiri, dan lain sebagainya,,
rasanya masih banyak yang ingin di share,,tapi artikel dari kompas. female mungkin akan mewakili hal tersebut ![]()
saya menemukan sebuah artikel yang mungkin bermanfaat bagi yang akan menikah atau yang telah menikah,,
ata-kata “And they live happily ever after” hanya ada di dongeng-dongeng putri yang akhirnya hidup bahagia bersama pangerannya. Di kehidupan nyata? Tidak semudah itu. Ada banyak tantangan yang tak akan berhenti datang di kehidupan pernikahan. Termasuk menghadapi pasangan.
Meski Anda dan dia sudah berpacaran bertahun-tahun, hal ini tidak menjamin akan kelanggengan dan kebahagiaan kehidupan pernikahan. Menurut Adriana S. Ginanjar, psikolog dari Universitas Indonesia dalam buku Mari Bicara, tantangan sering muncul dalam awal pernikahan. Masalah terumum adalah dalam penyesuaian diri terhadap peran baru sebagai suami dan istri. Bukan hal mudah, karena akan ada perbedaan dari kebiasaan sehari-hari, harapan terhadap pernikahan, cara berkomunikasi, serta nilai-nilai kehidupan.
Dalam film-film, sering dikatakan, kekuatan cinta akan mengalahkan segala rintangan. Namun di kenyataan, itu tidak akan cukup. Pasangan yang tak siap menghadapi adaptasi di awal pernikahan seringkali memandang konflik sebagai sinyal bahwa cinta telah padam dan pernikahan sudah di ambang kehancuran. Perbedaan yang dulu dipandang sebagai hal unik mulai menjadi biang keladi.
Adriana mengatakan, salah satu kunci keberhasilan penyesuaian diri adalah menyadari perbedaan di antara keduanya merupakan hal normal dan penting bagi pemenuhan kebutuhan masing-masing. Saat memilih pasangan di masa pacaran, pasti terjadi pemilihan kualitas yang tak Anda miliki agar merasa lebih penuh. Maka, supaya tidak memperbesar masalah, jangan lari dari hal itu, tetapi pegang dalam pikiran, bahwa tak akan terdapat kesamaan visi jika sama-sama bersikeras. Disarankan untuk sama-sama memperbesar toleransi dan penerimaan. Bila pasangan berusaha saling menerima perbedaan dan akhirnya menghargai keunikan masing-masing, maka pernikahan akan berjalan harmonis.
Inspirasi dan strategi beradaptasi di awal pernikahan dari buku Mari Bicara:
* Proses adaptasi sebagai pasangan baru selalu diwarnai konflik dan perbedaan pendapat. Jangan memasang target tinggi, dan bersikaplah santai dalam menghadapi masalah.
* Pikirkan dan selalu memusatkan pikiran pada hal positif pasangan. Kurangi membesarkan perbedaan apalagi mengubah pasangan supaya sesuai gambaran Anda.
* Diskusikan pandangan dan nilai-nilai untuk menjalani pernikahan. Mulai dari tugas-tugas suami dan istri, rencana punya anak, pengelolaan keuangan, pengembangan karier, kehidupan beragama, juga hubungan dengan kerabat.
* Jalin hubungan baik dengan keluarga pasangan. Ini dimaksudkan untuk lebih mengenal si dia lebih dalam.
* Ungkapkan cinta pada pasangan lewat beragam hal. Dari kecupan, kata-kata, sentuhan, memberikan bantuan, dan kejutan kecil lain yang menyenangkan.
* Hindari menjelek-jelekkan keluarga pasangan atau menantang untuk bercerai bila sedang terbawa emosi. Dua hal ini menimbulkan sakit hati mendalam.
* Bersabarlah meski perbedaan dan prosesnya berat. Jangan lupa untuk menghargai usaha pasangan.
Subhanalloh istriku ^_^